Cloud Hosting Indonesia

Hukum Merayakan Ulang Tahun



assalamualaikum.wr.wb

Pak Ustadz, bagaimana hukumnya merayakan ulang tahun,sedangkan kita tahu budaya ulang tahun itu kan dari Barat, bukan kah yang menyerupai kaum kafir itu di anggap kafir juga. Mohon jawabannya,karena penting sekali bagi saya. Terima kasih.

wassalamualaikum.wr.wb

Azai

Jawaban

Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perayaan ulang tahun atas kelahiran seseorang atau suatu organisasi tertentu tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Karena itu bila dilakukan, tidak bernilai ibadah.

Cukup banyak ulama tidak menyetujui perayaan ulang tahun yang diadakan tiap tahun. Tentu mereka datang dengan dalil dan hujjah yang kuat. Di antara alasan penolakan mereka terhadap perayaan ulang tahun antara lain:

1. Ulang tahun bila sampai menjadi keharusan untuk dirayakan dianggap sebuah bid’ah. Sebab Rasulullah SAW belum pernah memerintahkannya, bahkan meski sekedar mengisyaratkannya pun tidak pernah. Sehingga bila seorangmuslim sampai merasa bahwa perayaan hari ulang tahun itu sebagai sebuah kewajiban, masuklah dia dalam kategori pembuat bid’ah.

2. Ulang tahun adalah produk Barat/ non muslim

Selain itu, kita tahu persis bahwa perayaan uang tahun itu diimpor begitu saja dari barat yang nota bene bukan beragama Islam. Sedangkan sebagai muslim, sebenarnya kita punya kedudukan yang jauh lebih tinggi. Bukan pada tempatnya sebagai bangsa muslim, malah mengekor Barat dalam masalah tata kehidupan.

Seolah pola hidup dan kebiasaan orang Barat itu mau tidak mau harus dikerjakan oleh kita yang muslim ini. Kalau sampai demikian, sebenarnya jiwa kita ini sudah terjajah tanpa kita sadari. Buktinya, life style mereka sampai mendarah daging di otak kita, sampai-sampai banyak di antara kita mereka kurang sreg kalau pada hari ulang tahun anaknya tidak merayakannya. Meski hanya sekedar dengan ucapan selamat ulang tahun.

3. Apakah Manfaat Merayakan Ulang Tahun?

Selain itu perlu juga kita renungkan sebagai muslim, apakah tujuan dan manfaat sebenarnya bisa kitadapat dari perayaan ini? Adakah nilai-nilai positif di dalamnya? Ataukah sekedar meneruskan sebuah tradisi yang tidak ada landasannya? Apakah ada di antara tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang penting dalam hidup ini? Atau sekedar penghamburan uang?

Pertanyaan berikutnya,adakah sesuatu yang menambah iman, ilmu atau amal? Atau menambah manfaat baik pribadi, sosial atau lainnya? Pertanyaan berikutnya dan ini akan menjadi sangat penting, adakah dalam pelaksanaan acara seperti itu maksiat dan dosa yang dilanggar?

Yang terkahir namun tetap penting, bila ternyata semua jawaban di atas positif, dan acara seperti itu menjadi tradisi, apakah tidak akan menimbulkan salah paham pada generasi berikut seolah-olah acara seperti ini ‘harus’ dilakukan? Hal ini seperti yang terjadi pada upacara peringat hari besarIslam baik itu kelahiran, isra` mi`raj dan sebagainya.

Jangan sampai dikemudian hari, lahir generasi yang menganggap perayaan ulang tahun adalah ‘sesuatu’ yang harus terlaksana. Bila memang demikian, bukankah kita telah kehilangan makna?

Kalau menimbang-nimbang pernyataan di atas, ada baiknya kita yang sudah terlanjur merayakan ulang tahun buat anak atau bahkan untuk diri kita sendiri melakukan evaluasi besar.

Sebaliknya, mungkin ada baiknya pemikiran yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Al-Qradawi tentang ulang tahun untuk anak. Misalnya, pada saat anak itu berusia 7 tahun, tidak ada salahnya kita ajak dia untuk menyampaikan pesan-pesan dalam acara khusus tentang keadaannya yang kini menginjak usia 7 tahun. Di mana Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada paraorang tua untuk menyuruh anaknya shalat di usia itu.

Bolehlah dibuat acara khusus untuk penyampaian pesan ini, agar terasa ada kesan tertentu di dalam diri si anak. Bahwa sejak hari itu, dirinya telah mendapatkan sebuah tugas resmi, yaitu diperintahkan untuk shalat.

Nanti di usia 10 tahun, hal yang sama boleh dilakukan lagi, yaitu sebagaimana perintah Rasulullah SAW untuk menambah atau menguatkan lagi perintah shalat. Kali ini dengan ancaman pukulan bila masih saja malas melakukan shalat. Bolehlah diadakan suatu acara khusus di mana inti acaranya menetapkan bahwa si anak hari ini sudah berusia 10 tahun, di mana Rasulullah SAW membolehkanorang tua memukul anaknya bila tidak mau shalat.

Kira-kira usia 15 tahun lebih kurangnya, ketika anak pertama kali baligh, boleh juga diadakan acara lagi. Kali ini orang tua menegaskan bahwa anak sudah termasuk mukallaf, sehingga semua hitungan amalnya baik dan buruk sejak hari itu akan mulai dicatat. Bolehlah pada hari ituorang tua membuat acara khusus yang intinya menyampaikan pesan-pesan ini.

Jadi bukan tiap tahun bikin pesta undang teman-teman, lalu tiup lilin, potong kue, bernyanyi-nyanyi, memberi kado. Pola seperti ini sama sekali tidak diajarkan di dalam agama kita dan cenderung tidak ada manfaatnya, bahkan kalau mau jujur, justru merupakan cerminan dari sebuah mentalitas bangsa terjajah yang rela mengekor pada tradisi bangsa lain.

Bukankah Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari padanya? Lalu mengapa kita bangsa Islam ini harus mengekor pada tradisi bangsa lain yang jauh lebih rendah?

Mungkin jawabannya yang paling jujur adalah…istafti qalbak….
Mintalah fawa kepada hati nuranimu…

Wssalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber Hukum Merayakan Ulang Tahun : http://assunnah.or.id

Tidur Menurut Tuntunan Rasulullah

Sahabat,tidur adalah bagian tanda kekuasaan Alloh,sebagaimana difirmankan dalam Al-Quran :
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu diwaktu malam dan
siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesung-
guhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
mendengarkan".(QS. Ar-Ruum: 23)
Dan juga dalam firmanNya yang lain :
"Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat".(QS. An-Naba': 9).
Sementara Imam Ibnu Katsir berkata:
"Yaitu termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya Allah menjadikan sifat tidur
bagi kalian diwaktu malam dan siang, dengan tidur, ketenangan dan rasa
lapang dapat tercapai dan rasa lelah serta kepenatan dapat hilang".(Tafsir Ibrur Katsir 3/402.)

Lebih lengkapnya tentang adab tidur menurut tuntunan Rasululloh Muhammad saw adalah:
1. Anjuran Qoyluulah
Berkata Ibnu Atsir: "Qoyluulah adalah istirahat di pertengahan siang walaupun tidak
tidur".(Nihayah Fi Ghoribil Hadits 4/133)
Berdasarkan hadits:
Dari Sahl Bin Sa'd dia berkata: "Tdaklah kami qoyluulah dan makan siang
kecuali setelah shalat jum'at".(HR. Bukhari 939 dan Muslim 859)
Juga Rasulullah bersabda:
"Qoyluulah kalian sesungguhnya syaithon tidak qoyluulah"(HR. Abu Nu'aim dalam At-Thib: 12/1, Thabrani dalam Al-Ausath: 2725, dihasankan oleh AlAlbani
dalam As-Shahihah: 1647)
Al-Ha zh Ibnu Hajar berkata:
"Hadits diatas menunjukkan bahwa qoyluulah termasuk kebiasaan para sa-
habat Nabi setiap harinya".(Fatliul Bari: 11/ 83)

2. Tidur di awal malam
Rasulullah adalah teladan bagi setiap muslim, maka barang siapa yang memperhatikan
tidurnya, niscaya dia akan mendapati bahwa tidumya beliau paling sempurna dan paling
bermanfaat bagi tubuh. Beliau tidur diawal malam dan bangun diawal sepertiga malam.
Sahabat mulia Ibnu Abbas pernah bertutur:
"Suatu ketika aku pernah bermalam dirumah bibiku Muimunah untuk meli-
hat bagaimana shalatnya Rusulullah, beliau berbincang sejenak bersama
istrinya, kemudian tidur".(HR. Muslim: 763)

3. Dibencinya tidur sebelum lsya’ dan ngobrol setelahnya.
Berdasarkan hadits:
Dari Abu Barzah bahwasanya Rasulullah membenci tidur sebelum isya' dan
bercakap-cakap setelahrtya.(HR. Bukhari 568 dan Muslim: 647)
Al-Ha fizh lbnu Hajar berkata:
"Dibencinya tidur sebelum Isya' karena dapat melalaikan pelakunya dari
shalat isya' hingga keluar waktunya, adapun bercakapcakap setelahnya yang
tidak ada manfaatnya-pent, dapat meyebabkan tidur hingga shalat shubuh
dan luput dari shalat malam".(Fathul Bari 1/278)
Kemudian Al-Ha zh menegaskan bahwa larangan bercakap-cakap setetah Isya' dikhususkan
pada percakapan yang tidak ada manfaat dan kebaikan didalamnya.(Fathul Bari 1/278)
Adapun percakapan yang bermanfaat maka tidaklah termasuk dalam larangan ini,
sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Nabi bersama Abu Bakar
pernah bercakap-cakap hingga larut malam karena urusan kaum muslimin.(HR. Tirmidzi 169, Ahmad 1115, dishahihkan oleh AI-Albani dalam As-Shahihah, 2781)

4. Menutup pintu, mematikan api dan lampu Berdasarkan hadits:
Dari Jabir Bin Abdullah bahwasanya Rasulullah bersabda:
"Matikanlah lampu-lampu diwaktu malam jika kalian hendak tidur, dan tu-
tuplah pintu-pintu, bejana serta makanan dan minuman kalian.(HR. Bukhari 6296 dan Muslim 2012)
Juga berdasarkan hadits:
Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah bersabda: "Janganlah kalian meningalkan
api yang menyala ketika kalian tidur".(HR. Bukhari 6293)
Imam Al-Qurthubi berkata:
"Berdasarkan hadits ini apabila seseorang tidur sendirian sedangkan api
masih menyala di dalam rumahnya hendaklah ia mematikan terlebih dahu-
lu sebelum tidur, demikian pula apabila di dalam rumah terdapat beberapa
orang hendaklah orang yang terakhir yang melakukannya, maka barang siapa
yang meremehkan hal ini sungguh dia telah menyelisihi sunnah!".(Fathul Bari 11/103)
Ibnu Daqiq Al-`Ied berkata:
"Perintah menutup pinto sebelum tidur, di dalamnya terdapat kebaikan
duniawi dan ukhrowi yaitu menjaga diri dan harta dari orang-orang yang
hendak berbuat jahat, terlebih lagi dari syaithon".(Fathul Bari 11/104)
Perhatian: Perintah mematikan api dan lampu sebelum tidur merupakan tindakan pre-
ventif sebelum terjadt kebakaran, apabila aman dan kebakaran -seperti keadaan lampu-
lampu masa kini-Pent maka tidaklah mengapa menghidupkannya.(Lihat Syarah Shahih Muslim 13/163)

5. Berwudhu
Berdasarkan hadits:
Dari Baro' Bin 'Azib bahwasanya Rasulullah bersabda: "Apabila kalian
hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti wudhu kalian
untuk shalat".(HR. Bukhari 247 dan Muslim 2710)
Imam Nawawi berkata:
"Hadits ini berisi anjuran berwudhu ketika hendak tidur, apabila seseorang
telah mempunyai wudhu maka hal itu telah mencukupinya, karena maksud
dari itu semua adalah tidur dalam keadaan suci khawatir maut menjemput-
nya seketika itu, maksud yang lain dengan berwudhu dapat menjauhkan diri
dari gangguan syaithon dan perasaan takut ketika tidur".(Syarah Shahih Muslim 17/197)

6. Mengebuti tempat tidur
Berdasarkan hadits:
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: "Apabila salah se-
orang diantara kalian hendak tidur maka kebutilah tempat tidurnya dengan
ujung sarungnya, karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang akan menim-
pa padanya".(HR. Bukhari 6320 dan Muslim 2714)
Faidah hadits:
1. Sunnahnya mengebuti tempat tidur sebelum tidur.(Syarah Shahih Muslim 18/201)
2. Hendaklah mengebutinya tiga kali.(Fathul Bari 1 I/ /52)
3. Membaca 'Bismillah' ketika mengebutinya sebagaimana hadits riwayat Muslim no.
2714.
4. Bagi orang yang bangun dari tempat tidurnya kcmudian kembali lagi, maka dian-
jurkan untuk mengebutinya kembali.(sebagaimana hadits riwayat Tirmidzi. 3410, dishahihkan oleh AI-Albani dalam; Kalim Thoyyib:3410)
7. Larangan tidur satu selimut Berdasarkan hadits:
Dari Abu Said Al-Khudri dari bapaknya bahwasanya Rasulullah bersabda:
"Janganlah pria melihat aurat pria yang lain dan janganlah seorang wanita
melihat aurat wanita yang lain, dan janganlah pria berkumpul dengan pria
lain dalam satu selimut, dan janganlah wanita berkumpul dengan wanita
lain dalam satu selimut".(HR. Muslim 339 dan Tirmidzi 2793)

8. Berbaring Kesisi Kanan
Imam Ibnul Qoyyim berkata:
"Adalah Nabi tidur dengan berbaring kekanan dan beliau meletakkan tan-
gannya yang kanan dibawah pipinya yang kanan".(Zaadul Ma'ad 1/150)
Rasulullah bersabda:
Apabila kalian hendak mendatangi tempat tidur, maka berwudhulah seperti
wudhu kalian untuk shalat kemudian berbaringlah kesisi kanan!(HR. Bukhari 247 dan Muslim 2710)
Sahabat Mulia Hudzaifah berkata:
"Adalah Nabi apablla tidur beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya".
(HR. Bukhari: 6314, Ahmad 3/5, Abu Dawud: 5045)
Imam Ibnul Jauzy berkata:
"Keadaan tidur seperti ini sebagaimana ditegaskan oleh pakar kedokteran
merupakan keadaan yang paling baik bagi tubuh".(Farhul Bari 11/132)

9. Membaca Ayat AI-Qur’an
Dianjurkan bagi setiap orang yang hendak tidur untuk membaca ayat-ayat AI-Qur'an
terlebih dahulu, diantaranya:
1. Membaca Ayat kursi, berdasarkan hadits tentang kisah Abu Hurairah yang diajari
oleh syaithon ayat kursi kemudian dia berkata:
"Jika engkau membacanya, maka Allah senanriasa akan menjagamu dan
syaithon tidak akan mendekatimu hingga pagi."(HR. Bukhari 2311)
2. Membaca surat Al-lkhlas, AI-Falaq, An-Naas, berdasarkan hadits A'isyah dia
berkata:
"Adalah Rasulullah apabila hendak tidur beliau mengumpulkan kedua
telapak tangannya lalu meniupnya seraya membaca surat Al-lkhlas, Al-
Falaq, An-Naas, kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan-
nya kebagian tubuh yang bisa diusap, dirnulai dari kepala, wajah dan
bagian tubuh lainnya sebanyak tiga kali ".(HR. Bukhari 5017, Abu Dawud 5056 dan Tirmidzi 3406)
3. Membaca Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, berdasarkan hadits:
Dari Abu Mas'ud Al Badriyyi bahwasanya Rasulullah bersabda: "Dua
ayat terakhir dari surat Al-Baqarah barang siapa yang membacanya di-
waktu malam maka akan mencukupinya".(HR. Bukhari 4008 dan Muslim 807)

10. Membaca Do’a
Banyak sekali do'a sebelum tidur yang telah diajarkan Nabi dtantaranya:
"Yaa Allah dengan menyebut nama-Mu aku mati dan hidup".(Bukhari 6312, Abu Dawud 5049, Tirmidzi 3417 dan Ibnu Majah 3880)
"Yaa Allah... aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan segala urusanku
kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu karena mengharap dan
takut kepada-Mu, tidak ada tempat bersandar dan tempat menyelamatkan
kecuali kepada-Mu, Yaa Allah... aku beriman kepada kitabMu yang telah
engkau turunkan dan kepada NabiMu yang telah engkau utus", maka ji-
ka engkau meninggal pada malam harinya sungguh engkau meniggal dalam
keadaan throh dan jadikanlah do'a tersebut akhir yang engkau ucapkan.(Bukhari 247 dan Muslim 2710)

11. Apa yang harus dilakukan jika bermimpi?
Dari Abdullah Bin Abu Qotadah bahwasanya Rasulullah bersabda:
"Mimpi yang baik adalah dari Allah, sedamgkam mimpi yang buruk dari
syaithon, maka apabila salah seoratg diantara kalian mimpi buruk hendak-
lah ia meludah kearah kiri dan mohonlah perlindumgan kepada Allah dari
kejelekannya, sesungguhnya hal itu tidak akan memadhorotinya".(HR. Bukhari 3292 dan Muslim 2261)
Faidah hadits:
1. Mimpi ada dua macam: baik dan buruk, mimpi yang baik adalah dari Allah
sedangkan mimpi yang buruk dari syaithon.(Syarah Shahih Muslim 15/420)
2. Apabila bermimpi baik hendaklah ia memuji Allah dan menceritakannya kepada
orang yang menyukai.(Fathul Bari 12/463)
3. Sebalknya apabi Ia bermimpi burns maka hendaklah in memohon perlindungan
kepada Allah, kemudian meludah kearah kiri sebanyak tiga kali, bepindah tempat,
shalat dua rakaat dan janganlah ia menceritakan kepada seorangpun.(Lihat Fathul Bari I2/463, Syarah Shahih Muslim 15/421)

12. Dibencinya tidur telungkup Berdasarkan hadits:
Dari Tikhfah Al-Ghifari dia berkata:
Suatu ketika tatkala aku tidur didalam mesjid, tiba-tiba ada seorang yang
menghampiriku, sedangkan aku dalam keadaan tidur terlungkup, lalu dia
membangunkanku dengan kakinya seraya berkala: Bangunlah! Ini adalah
bentuk tidur yang dibenci Allah, maka akupum mengangkat kepalaku terny-
ata beliau adalah Nabi.(HR. Bukhari dalam Adab Mufrod 1187, Tirmidzi 2768, Ibnu Majah 3723, dishahihkan oleh Al-Albani)
Berkata Syaroful Haq 'Azhim Abadi:
"Berdasarkan hadits inI, bahwa tidur telungkup diatas perut adalah dilarang,
dan itu adalah bentuk tidurnya syaithon".('Aunul Ma'bud 13/261)

13. Dibencinya tidur diatas rumah tanpa penutup
Berdasarkan hadits:
Dari Ali Bin Syaiban bahwasanya Rasulullah: bersabda: Barang siapa
yang tidur diatas rumah tanpa penutup/penghalang maka sungguh telah
terlepas darinya penjagaan".(HR. Bukhari dalam Adab Mufrod 1192, Abu Dawud 5041. Ahmad 5/79, dishahihkan oleh Al-Albani
dalam As-Shahihah 828. lihat pula Shahih adab Mufrod 908)

14. Do’a ketika bangun tidur
Ketika bangun dari tidur hendaklah kita berdo'a:
"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setetah sebelumnya
mematikan kami dan hanya kepadaNya kami akan dibangkitkan ".(HR. Bukhari 6312, Abu Dawud 5049, Tirmidzi 3417, Ibnu Majah 3880)

Demikianlah pembahasan kita kali ini, akhirmya kita memohon kepada Allah tau k dan
hidayah-Nya agar tetap istiqomah dialas jalan-Nya. Amiin. Wallahu A'lam,
(Tulisan Karya Abu Abdillah Al-Alsari)

Sahabat Anda
Ali Hidayah


Memahami Tanda Orang Yang Diterima Shalatnya

Setiap amal ibadah tentu tidak hanya memiliki dampak terhadap kebaikan akhirat saja akan tetapi tentu juga akan terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari kita selama didunia.
Begitu juga halnya dengan shalat,walaupun tidak mutlak karena hanya Alloh Ta'ala yang mengetahui diterima tidaknya sholat kita,akan tetapi bolehlah kita sedikit memahami tanda-tanda orang yang diterima sholatnya dengan keterbatasan kita sebagai makhluk-Nya.
Berikut diantara lima tanda-tanda orang yang diterima shalatnya :

Pertama, dia yang merendahkan diri dengan shalatnya karena kebesaran Allah. Shalat yang diterima adalah shalat yang penuh kerendahan diri di hadapan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Orang yang rendah diri akan mampu merasakan khusyu` dalam hatinya. Jiwanya sadar dan mengerti dengan siapa ia saat ini menghadap.

Karena itu, sebelum shalat, yang harus ditata terlebih dahulu adalah hati. Hati itu seperti pohon. Bila dahannya rindang, burung-burung pun senang hinggap di atasnya. Bila hati bercabang pikiran-pikiran dan nafsu pun senang bermain di dalamnya. Shalatlah shalat yang memutuskan perpisahan dari dunia. Allah tidak akan terasa bila urusan dunia menggelayut dalam hati.

Kedua, orang yang tidak menyombongkan diri kepada makhluk Allah. Rasa tawadhu` dengan sendirinya menghilangkan sikap angkuh dan sombong kepada sesama makhluk. Kekuasaan yang ada di genggamannya tidak menyebabkan dirinya lupa daratan lalu berbuat sewenang-wenang karena ia sadar bahwa kekuasan adalah amanat Allah.

Orang yang diterima shalatnya adalah orang yang tidak menyombongkan dirinya kepada siapa pun. Meski ia kuasa, pandai, dan kaya. Tidak termasuk orang yang diterima shalatnya kalau bertingkah sombong kepada sesamanya.

Ketiga, orang yang tidak mengulangi maksiat kepada Allah. Dalam hidup, sekali waktu kita pernah terjerembab dalam kubangan dosa. Mungkin di antara kita ada yang pernah memalsukan kwitansi jual-beli. Mungkin ada dari kita yang pernah menjadi tukang copet, koruptor, atau penjual kehormatan. Mungkin ada dari kita yang pernah berdusta, menggunjing, berbohong, menebar janji-janji `surga' kepada rakyat saat Pilkada yang tak ditepati. Kenanglah perbuatan masa lalu itu sebelum shalat, lalu lakukan shalat dengan hati taubat dan siap menghadap kepada-Nya.

Menangis dan mengemislah kepada Allah, memohon ampunan atas gulungan ombak dosa seraya berucap, “Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.” Usai shalat, jangan ulangi maksiat yang pernah kita lakukan.

Keempat, orang mengisi sebagian siangnya dengan berzikir kepada Allah. Waktu bagi orang mukmin, amatlah berharga. Manajemen waktu dilaksanakan dengan penuh kedisplinan. Sebagian detik-detiknya ia lalui dengan meladeni Allah, bersimpuh sujud, ingat dan tawakkal kepada-Nya.

Nabi yang merupakan sosok dengan keterjagaan dari segala dosa, baik yang telah lewat maupun akan datang, toh beliau tidak jumawah. Beliau beristighfar memohon ampunan kepada Allah tidak kurang 100 kali dalam sehari. Bagaimana dengan kita?

Kelima, orang yang menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan, wanita yang ditinggal suaminya, dan yang mengasihi orang yang ditimpa musibah. Shalat yang dilakukan membekas dalam kehidupan sebagai khalifah Allah yang saling cinta-mencintai, sayang-menyanyangi antara satu dengan lainnya. Ibadah sosial menjadi warna-warni bunga hidupnya yang senantiasa ia berikan kepada siapa saja untuk membahagiakan diri orang lain yang membutuhkan.

Bila kelima ciri orang yang diterima shalatnya ini telah terpenuhi, maka kata Allah:

“Cahayanya bagaikan cahaya matahari. Aku lindungi dia dengan kekuasaan-Ku. Aku perintahkan malaikat menjaganya. Aku jadikan cahaya dalam kegelapannya. Aku berikan ilmu dalam ketidaktahuannya. Perumpamannya dibandingkan dengan makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di surga.”

*)Penulis adalah Pengasuh Taman Baca Bismikallah, Malang

Sumber : www.hidayatullah.com


Gerhana Bulan Sebagian -14 Rajab 1431H/26 Juni 2010

Sahabat muslim,pada tanggal 14 Rajab 1431H atau bertepatan dengan tanggal 26 Juni 2010 M,insyaAlloh menurut informasi yang diperoleh pada tanggal tersebut diatas akan terjadi Gerhana Bulan Sebagian.
Informasi tersebut didapatkan dari, salahsatunya,www.dirgantara-lapan.or.id.

Dan berikut kutipan informasi dari www.dirgantara-lapan.or.id :
Pada tanggal 26 Juni 2010 akan terjadi peristiwa astronomi yang menarik, yaitu gerhana bulan sebagian. Peristiwa ini bisa diamati dari banyaktempat di permukaan bumi, walaupun hanya berupa gerhana sebagian saja. Peristiwa gerhana ini cukup menarik karena cukup langka terjadinya, dan pata pengamat bisa memperhatikan proses masuknya bayangan bumi ke bulan, sampai warna bulan menjadi berubah.


Sebagai seorang muslim tentu akan menyikapi peristiwa ini dengan mengedepankan keimanan akan ke Maha Kuasaan Alloh Ta'ala dengan segala ciptaannya.Dan menjalankan sunnah yang diajarkan oleh tauladan kita Nabi Muhammad saw jika menghadapi peristiwa Gerhana.

Berikut kutipan salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.,
Hadits Riwayat Aisyah ra. ia berkata :
Pada masa Rasulullah saw pernah terjadi gerhan Matahari.Saat itu Rasululloh saw melakukan Sholat Gerhana,beliau berdiri sangat lama dan juga sangat lama,lalu mengangkat kepala dan berdiri lama,tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama.Kemudian beliau rukuk lama,tapi tidak seperti lamanya rukuk yang pertama.Selanjutnya beliau sujud.Kemudian berdiri lama,namun tidak seperti lamanya berdiri pertama,mengangkat kepala,lalu berdiri lama,tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama,rukuk cukup lama tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama,lalu sujud dan selesai.Ketika Sholat usai Matahari nampak sudah sempurna kembali.Beliau berkhutbah dihadapan kaum muslimin,memuji Alloh menynjung-Nya dan bersabda : Sesungguhnya Matahari dan Rembulan itu bagian dari tanda-tanda kebesaran Alloh.Kedunya gerhana buklan karena kematian atau kelahiran seseorang.Oleh sebab itu,jik kalian melihat keduanya gerhana,maka bertakbirlah,berdoalah kepada Alloh,kerjakanlah Sholat dan bersedekahlah!Hai ummat Muhammad, tidak seorangpun lebih cemburu daripada Alloh,bila hambanya ,baik lelaki maupun perempuan berbuat zina.Hai ummat Muhammad, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui,tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa....


Demikian apa yang dicontohkan Nabi Muhammad kepada ummatnya ketika menghadapi gerhana,yaitu : Bertakbirlah,Berdo'a kepada Alloh,Kerjakanlah Sholat dan Bersedeklah.

Semoga artikel ini bermanfaat demi pencerahan kita sebagai ummat Islam dan menjadi jalan petunjuk bagi kita semua.Amin.InsyaAlloh








Biografi Syeikh Saad Al-Ghomidi




Hosting & Domain


Syeikh Saad Al-Ghomidi lantunan murottalnya barangkali sudah akrab dipendengaran kita.Bahkan salah satu software Al-Quran Digital menggunakan murottal/tilawah Al-quran dari Syeikh Saad Al-Ghomidi untuk suara Qori-nya.

Untuk lebih mengenal beliau mari kita simak biografi singkatnya dari Syeikh Saad Al-Ghomidi.

Biografi Saad Al Ghamidi

Syeikh Ibnu Saad Said Al Ghadimi, seorang Qari Qur'an, dilahirkan pada tanggal 19 Mei tahun 1967 (1387H)di kota Damman , Saudi Arabia.

Studi:

Syeikh lulus dari universitas Imam Muhammad Ibn Saoûd di Al-Ahsaa. (The theological speciality: Oussoul Addin) pada tahun 1410. Beliau selesai belajar Quran tahun 1415 dan tahun 1417, ia mendapat gelar Baccalaureate dari isnad diambil dari Riwayat Hafsh 'Ain Aasim.

Pengalaman Profesional:

* 1. Al Ghamidi bekerja sebagai guru 1411-1415.
* 2. Dia bekerja sebagai pembimbing untuk pendidikan Islam 1416-1423.
* 3. Dia saat ini bekerja sebagai direktur di sekolah swasta Mohamed Al Fateh di Dammam. Pekerjaan: - yang bertanggung jawab utama untuk mengajar Qur'an di pusat Chatibi Imam di Dammam.
- The major responsible for theological and educational studies in Manar Al Houda center.
- Imam di Masjid Yousuf Ibn Ahmed di Dammam.
- Member of social “lajna” of Dammam which is concerned with “Chouôun Ijtimaîya”


Buku:
* - The recited Holy book in 1417.
* - Nouddoum hdayat Al Mourtab Al fi Moutachabih al kittab by the beloved Imam Sakhami.
* - Nouddoum All-yat Irraqui by Hafidh Iraqui.
* - Arts (Illa all al Quran).
* - Addkan
* - Rouqiya chariya.

Artikel asli dalam bahasa inggris bisa ditemui di www.assajda.com.Dan mohon maaf jika dalam penerjemahannya banyak ketidak sempurnaan.

Bagi sahabat yang mau menambahkan atau koreksi atas artikel ini silahkan dikotak komentar.InsyaAlloh semoga menjadi kebaikan kita semua.

Biografi Sheikh Mishary bin Rashed Al-Afasy


Bagi sahabat-sahabat yang rutin menyimak tilawah/murottal Al-Quran terutama dari para Imam-Imam Mesjid Timur Tengah tentunya sudah tidak asing lagi dengan nama qari Sheikh Mishary bin Rashed Al-Afasy.

Dan untuk lebih mengenal sedikit tentang beliau, berikut sekilas Biografi singkat dari sosok Sheikh Mishary bin Rashed Al-Afasy.

Sheikh Mishary bin Rashid Al-Afasy Mishary Rashid Ghareeb atau Mohammed Rashed Al-Afasy adalah Qari Kuwait internasional baru, ia lahir di Kuwait pada 5 September 1976 (Minggu 11 Ramadhan 1396 H).

Ia belajar Quran di College of the Holly Quran dan Studi Islam di Universitas Islam Madinah (Kerajaan Arab Saudi), dalam spesialisasi 'sepuluh bacaan dan terjemahan Al-Qur'an ". Dia telah belajar qiro'ah Quran kepada Sheikh Ahmed Abdulaziz Al-Zaiat, Syekh Ibrahim Ali Shahata Al-Samanodei, dan Cheikh Abdurarea Radwan. Dia terkesan sejumlah ulama besar Quran.

Sebenarnya Sheikh Mishary Al Afasy, dia Imam Masjid Al-Kabir (Grand Masjid) di Kuwait City, dan setiap Ramadhan ia menjadi imam Sholat Tarawih di Masjid ini.

Baru-baru ini, Sheikh bin Mishary Rashed Al-Afasy telah mengunjungi dua masjid di Amerika Serikat: Islamic Center of Irvine (ICOI) di California dan Islamic Center di Detroit (ICD) di Michigan.

Al Afasy memiliki 2 Ruang Saluran khusus dalam membaca Al-Quran, yang pertama adalah Alafasy TV dan Alafasy Q.

Syekh Alafasy menikah dan memiliki dua anak perempuan. Dia juga dijuluki Abu Nora.



Hosting & Domain



Keutamaan Menghafal Al-Quran


"Mengapa harus menghafalkan Al-Quran?",mungkin itulah sebaris pertanyaan bagi orang yang tidak atau belum mengetahui alasan ketika dijumpai olehnya beberapa bagian ummat Muslim yang sedang berjuang untuk menghafal Al-Quran.

Dan berikut jawaban dari pertanyaan yang tidak semestinya keluar dari benak/fikiran seorang muslim,karena sudah seharusnya Al-Quran itu berada didalam dada setiap umat Islam.

Fadhail Hifzhul Qur'an (Keutamaan Menghafal Al-Qur'an)

Banyak hadits Rasulullah saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur'an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, "Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur'an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh." (HR. Tirmidzi)

Berikut adalah Fadhail Hifzhul Qur'an (Keutamaan menghafal Qur'an) yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya, agar kita lebih terangsang dan bergairah dalam berinteraksi dengan Al Qur'an khususnya menghafal.

Fadhail Dunia

1. Hifzhul Qur'an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah

Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur'an,
"Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur'an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, 'Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat'" (HR. Bukhari)

Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur'an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu,
"Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur'an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya." (HR. Hakim)

2. Al Qur'an menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya

"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya" (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Seorang hafizh Al Qur'an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi SAW)

Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur'an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur'an. Rasul mendahulukan pemakamannya.

"Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, "Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur'an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat." (HR. Bukhari)

Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi.

Dari Abu Hurairah ia berkata, "Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, "Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,"Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah." Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?" Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, "Benar." Nabi bersabda, "Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi." (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa'i)

Kepada hafizh Al Qur'an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama'ah. Rasulullah SAW bersabda,
"Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya." (HR. Muslim)

4. Hifzhul Qur'an merupakan ciri orang yang diberi ilmu

"Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim." (QS Al-Ankabuut 29:49)

5. Hafizh Qur'an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi

"Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, "Siapakah mereka ya Rasulullah?" Rasul menjawab, "Para ahli Al Qur'an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya." (HR. Ahmad)

6. Menghormati seorang hafizh Al Qur'an berarti mengagungkan Allah

"Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur'an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil." (HR. Abu Daud)


Fadhail Akhirat

1. Al Qur'an akan menjadi penolong (syafa'at) bagi penghafal

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah olehmu Al Qur'an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa'at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya)."" (HR. Muslim)

2. Hifzhul Qur'an akan meninggikan derajat manusia di surga

Dari Abdillah bin Amr bin 'Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Akan dikatakan kepada shahib Al Qur'an, "Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur'an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca." (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Para ulama menjelaskan arti shahib Al Qur'an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.

3. Para penghafal Al Qur'an bersama para malaikat yang mulia dan taat

"Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur'an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat." (Muttafaqun ?alaih)

4. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan)

Mereka akan dipanggil, "Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?" Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani)

5. Kedua orang tua penghafal Al Qur'an mendapat kemuliaan

Siapa yang membaca Al Qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, "Mengapa kami dipakaikan jubah ini?" Dijawab,"Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur'an." (HR. Al-Hakim)

6. Penghafal Al Qur'an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Qur'an

Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah. Sedangkan pahala yang dijanjikan Allah adalah dari setiap hurufnya.

"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf." (HR. At-Turmudzi)

7. Penghafal Al Qur'an adalah orang yang akan mendapatkan untung dalam perdagangannya dan tidak akan merugi

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS Faathir 35:29-30)

Adapun fadilah-fadilah lain seperti penghafal Al Qur'an tidak akan pikun, akalnya selalu sehat, akan dapat memberi syafa'at kepada sepuluh orang dari keluarganya, serta orang yang paling kaya, do'anya selalu dikabulkan dan pembawa panji-panji Islam, semuanya tersebut dalam hadits yang dhaif.

"Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, dan keluarga kami sebagai penghafal Al Qur'an, jadikan kami orang-orang yang mampu mengambil manfaat dari Al Qur'an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya, dan jadikan kami orang-orang yang beruntung ketika selesai khatam Al Qur'an. Allahumma amin"

Maraji':
Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur'an Da'iyah.
Dr. Yusuf Qardhawi. Berinteraksi dengan Al Qur?an.

Sumber : www.pk-sejahtera.org.uk